Kerja Sama Energi Terbarukan Jaring Investasi Rp106,3 Triliun

Kerja Sama Energi Terbarukan Jaring Investasi Rp106,3 Triliun

Jakarta, (AntaraSumbar) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan sejumlah kerja sama bidang energi terbarukan melalui penandatangan pada acara Indonesia EBTKE 2015 diperkirakan menjaring investasi senilai Rp106,3 triliun pada lima tahun mendatang.

“Kami laporkan bahwa pada kesempatan ini akan ditandatangani lima Power Purchase Agreement (perjanjian jual beli listrik), sembilan MoU (Memorandum of Understanding/nota kesepahaman) dan 13 izin panas bumi akan diberikan kepada pelaku usaha. Seluruh dokumen ini diperkirakan akan menjaring investasi sekitar Rp106,3 triliun dalam lima tahun ke depan,” katanya dalam sambutan pembukaan Indonesia Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Conference and Exhibition (Conex) 2015 ke-4 dan Indonesia Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2015 ke-3 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu.

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan investasi tersebut berpotensi menambah pasokan listrik dari energi baru terbarukan sekitar 2.400 megawatt.

Selain itu, ia mengatakan pada kesempatan yang sama juga dilakukan serah terima atas pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLMTH), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga biomassa atau sampah dengan total kapasitas 575 kilowatt untuk mengalirkan listrik pada 1.215 kepala keluarga di wilayah terpencil.

“Serah terima ini akan menandai seluruh tahapan pengelolaan EBTKE yang akan disusul dengan 1.000 lokasi lain dengan kapasitas seluruhnya 30 megawatt,” ujarnya.

Sudirman Said mengatakan serah terima pembangkit listrik tersebut akan mendorong lebih banyak masyarakat yang dapat menggunakan listrik.
“Ini memberi satu simbol bahwa membangun dari pinggiran memperhatikan wilayah-wilayah yang selama ini tidak terlistriki betul-betul sedang kita jalankan,” tuturnya.

Dikatakan, EBTKE adalah bagian penting dari pelaksanaan program listrik 35.000 megawatt. Kontribusi energi baru dan terbarukan sekitar 8.750 megawatt atau 25 persen dari total kapasitas tersebut.

Ia mengatakan kontribusi tersebut akan berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas 1.751 megawatt, pembangkit listrik tenaga hidro atau air dengan kapasitas 2.438 megawatt dan pembangkit listrik tenaga “bioenergy” dengan kapasitas 1.156 megawatt.

Kemudian, gabungan antara pembangkit listrik tenaga surya, angin, arus laut dan lainnya diperkirakan 3.405 megawatt.

“Untuk itu, diperlukan investasi dalam jangka pendek lebih mahal dari energi konvensional yang diperkirakan dalam lima tahun ke depan kita membutuhkan Rp402 triliun,” ujarnya.

Menteri mengatakan pelaksanaan progran 35.000 megawatt menjadi tantangan yang membutuhkan daya juang dan kerja sama antar-seluruh pemangku kepentingan.

“Benar sekali bahwa pelaksanaan program 35.000 megawatt bukanlah hal yang mudah tetapi suatu kebutuhan yang harus kita perjuangkan bersama,” katanya.

Ia mengimbau semua pemangku kepentingan pembangunan ketenagalistrikan termasuk pelaku usaha di bidang energi baru dan terbarukan untuk bahu-membahu mengkaji dan mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencari solusi guna mencapai target program listrik itu.

“Hari ini dari 35.000 megawatt, 19 persen di antaranya sudah konstruksi dan PLN (Perusahaan Listrik Negara mengatakan kepada kami bahwa dalam tahun ini sekurang-kurangnya 10 megawatt akan dilakukan PPA (Power Purchase Agreement/perjanjian jual beli listrik),” tuturnya.

Dikatakan, 13 izin panas bumi tersebut memiliki total kapasitas pembangkitan 1.515 megawatt dengan investasi sebesar Rp81 triliun yang dapat menyerap tenaga kerja kurang lebih 4.500 orang.

Sebanyak 13 wilayah kerja panas bumi (WKP) adalah WKP Telaga Ngebel dengan kapasitas 165 megawatt yang dikelola oleh PT Bakrie Darmakarya Energi, WKP Belawan-Ijen dengan kapasitas 110 megawatt yang dikelola PT Medco Cahaya Geothermal.

Kemudian, WKP Sorik Merapi- Roburan-Sampuraga dengan kapasitas 240 megawatt yang dikelola oleh PT Sorik Merapi Geothermal Power, WKP Sokoria dengan 15 megawatt yang dikelola oleh PT Sokoria Geothermal
Indonesia, WKP Rajabasa dengan 220 megawatt yang dikelola oleh PT Supreme Energy Rajabasa.

Selanjutnya, WKP Rantau Dedap dengan 220 megawatt yang dikelola PT Supreme Energy Rantau Dedap, WKP Danau Banten dengan 110 megawatt yang dikelola oleh PT Sintesa Banten Geothermal.

WKP Jailolo memiliki kapasitas 10 megawatt yang dikelola PT Star Energi Geothermal Halmahera, WKP Cisolok-Cisukarame dengan kapasitas 45 megawatt yang dikelola PT Jabar Rekind Geothermal, WKP Jaboi dengan 10 megawatt yang dikelola PT Sabang Geothermal Energy.

WKP T Perahu dengan 110 megawatt yang dikelola PT Tangkuban Perahu Geothermal Power, WKP Muara Laboh dengan kapasitas 220 megawatt yang dikelola PT Supreme Energy Muara Laboh dan WKP Tampomas dengan 40 megawatt yang dikelola PT Wijaya Karya Jabar Power.

Sementara itu, sembilan penandatangan kerja sama adalah kerja sama antara Direktorat Jenderal (Ditjen) EBTKE dengan Pace Energy Pte Ltd dari Singapore di bidang pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten dengan potensi kapasitas 150 megawatt.

Kerja sama antara Ditjen EBTKE dan Indo Wind Power Holdings Pte Ltd dari Singapura di bidang pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu di Kabupaten Jeneponto dan Timor Tengah Selatan dengan potensi 132,5 megawatt.

Kerja sama pengembangan dan pemanfaatan energi arus laut tahap komersial untuk pembangkitan tenaga listrik di Indonesia antara PT PLN dengan SBS International Ltd. Kapasitas pengembangan mulai dari 12-140 megawatt dengb nilai investasi 350 juta dolar AS. Lokasinya berada di Selat Alas, Selat Lombok dan Selat Badung.

Kerja sama pembangunan PLT rumput laut di Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan dengan Konsorsium PT Pembangkit Jawa Bali-IngenieursbureauDe Raaij en Datema B V – PT Dutacipta Pakarperkasa. Potensinya adalah 100 megawatt yang mampu menyerap 300 tenaga kerja.

Kerja sama pembangunan PLT rumput laut di Kabupaten Sumenep antara pemerintah daerah setempat dengan Konsorsium PT Pembangkit Jawa Bali-IngenieursbureauDe Raaij en Datema B V – PT Dutacipta Pakarperkasa, dengan potensi 100 megawatt.

Kerja sama pembangunan PLT gelombang air laut di Kabupaten Buton antara pemerintah daerah setempat dengan Konsorsium PT Pembangkit Jawa Bali-IngenieursbureauDe Raaij en Datema B V – PT Dutacipta Pakarperkasa, dengan potensi 50 megawatt.

Kerja sama pengembangan PLT biogass rumput laut di Bangka antara pemerintah daerah setemoat dengan Konsorsium dari IngenieursbureauDe Raaij en Datema B V – PT Dutacipta Pakarperkasa- PT Gunung Menumbing Madya, dengan potensi 100 megawatt.

Kesepakatan bersama antara Kementerian ESDM dengan Pemerintah Provinsi Bali tentang Pulau Dewata itu sebagai kawasan nasional energi bersih dan pengembangan Centre of Excellence Energi Bersih.

Kesepakatan bersama antara Kementerian ESDM dengan Departemen Energi dan Perubahan Iklim, The United Kingdom di terkait kerja sama studi strategi panas bumi.

Lebih lanjut, lima perjanjian jual beli listrik (PJBL) adalah PJBL pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 70 megawatt di Sidrap Sulawesi Selatan antara PT UPC Sidrap Bayu Energi dengan PT PLN, dengan perkiraan nilai investasi sebesar 180 juta dolar AS dan menyerap tenaga kerja 325 orang.

PJBL antara PT PLN dengan PT BNE (PLTA Hasang) dengan kapasitas 40 megawatt di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

PJBL PLT Biomass Tanjung Batu dengan kapasitas 900 kilowatt dari cangkang kelapa sawit dan “wood chip” di Kabupaten Karimun, Riau antara PLN dan PT Prima Gasifikasi Indonesia dengan investasi 2 juta dolar AS.

PJBL PLTS Sumba Timur dengan kapasitas 1 megawatt di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dengan investasi Rp28 miliar antara PLN dengan PT Buana Energi Surya Persada.

PJBL PLTS Gorontalo dengan kapasitas 2 megawatt di Provinsi Gorontalo dengan investasi Rp51 miliar antara PT PLN dan PT Brantas Adya Surya Energi.

Sumber: Antarasumbar.com